Sistem Peredaran Darah Manusia

Standar

Struktur Alat Peredaran Darah Pada Manusia
Sistem peredaran darah pada manusia tersusun atas jantung sebagai pusat peredaran darah, pembuluh-pembuluh darah dan darah itu sendiri.

1. Jantung

Jantung mempunyai empat ruang yang terbagi sempurna yaitu dua serambi (atrium) dan dua bilik (ventrikel) dan terletak di dalam rongga dada sebelah kiri di atas diafragma. Jantung terbungkus oleh kantong perikardium yang terdiri dari 2 lembar :
a. lamina panistalis di sebelah luar
b. lamina viseralis yang menempel pada dinding jantung.
Jantung memiliki katup atrioventikuler (valvula bikuspidal) yang terdapat di antara serambi dan bilik jantung yang berfungsi mencegah aliran dari bilik keserambi selama sistol dan katup semilunaris (katup aorta dan pulmonalis) yang berfungsi mencegah aliran balik dari aorta dan arteri pulmonalis kiri ke bilik selama diastole.

2. Pembuluh Darah

Pembuluh darah terdiri atas arteri dan vena. Arteri berhubungan langsung dengan vena pada bagian kapiler dan venula yang dihubungkan oleh bagian endotheliumnya.
Arteri dan vena terletak bersebelahan. Dinding arteri lebih tebal dari pada dinding vena. Dinding arteri dan vena mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan bagian dalam yang terdiri dari endothelium, lapisan tengah yang terdiri atas otot polos dengan serat elastis dan lapisan paling luar yang terdiri atas jaringan ikat ditambah dengan serat elastis. Cabang terkecil dari arteri dan vena disebut kapiler. Pembuluh kapiler memiliki diameter yang sangat kecil dan hanya memiliki satu lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran basal.
Perbedaan struktur masing-masing pembuluh darah berhubungan dengan perbedaan fungsional masing-masing pembuluh darah tersebut.

Pembuluh darah terbagi menjadi :
A. Pembuluh darah arteri
1. Tempat mengalir darah yang dipompa dari bilik
2. Merupakan pembuluh yang liat dan elastis
3. Tekanan pembuluh lebih kuat dari pada pembuluh balik
4. Memiliki sebuah katup (valvula semilunaris) yang berada tepat di luar jantung
5. Terdiri atas :
5.1 Aorta yaitu pembuluh dari bilik kiri menuju ke seluruh tubuh
5.2 Arteriol yaitu percabangan arteri
5.3 Kapiler :
a. Diameter lebih kecil dibandingkan arteri dan vena
b. Dindingnya terdiri atas sebuah lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran basal
6. Dindingnya terdiri atas 3 lapis yaitu :
6.1 Lapisan bagian dalam yang terdiri atas Endothelium
6.2 Lapisan tengah terdiri atas otot polos dengan Serat elastis
6.3 Lapisan terluar yang terdiri atas jaringan ikat Serat elastis
B. Pembuluh Balik (Vena)
1. Terletak di dekat permukaan kulit sehingga mudah di kenali
2. Dinding pembuluh lebih tipis dan tidak elastis.
3. Tekanan pembuluh lebih lemah di bandingkan pembuluh nadi
4. Terdapat katup yang berbentuk seperti bulan sabit (valvula semi lunaris) dan menjaga agar darah tak berbalik arah.
5. Terdiri dari :
5.1. Vena cava superior yang bertugas membawa darah dari bagian atas tubuh menuju serambi kanan jantung.
5.2. Vena cava inferior yang bertugas membawa darah dari bagian bawah tubuh ke serambi kanan jantung.
5.3. Vena cava pulmonalis yang bertugas membawa darah dari paru-paru ke serambi kiri jantung.

Sistem Peredaran Darah Manusia

Macam Peredaran Darah
Peredaran darah manusia merupakan peredaran darah tertutup karena darah yang dialirkan dari dan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah dan darah mengalir melewati jantung sebanyak dua kali sehingga disebut sebagai peredaran darah ganda yang terdiri dari :
1. Peredaran darah panjang/besar/sistemik
Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah yang kaya oksigen dari bilik (ventrikel) kiri jantung lalu diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen bertukar dengan karbondioksida di jaringan tubuh. Lalu darah yang kaya karbondioksida dibawa melalui vena menuju serambi kanan (atrium) jantung.
2. Peredaran darah pendek/kecil/pulmonal
Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah dari jantung ke paru-paru dan kembali ke jantung. Darah yang kaya karbondioksida dari bilik kanan dialirkan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis, di alveolus paru-paru darah tersebut bertukar dengan darah yang kaya akan oksigen yang selanjutnya akan dialirkan ke serambi kiri jantung melalui vena pulmonalis.
Proses peredaran darah dipengaruhi juga oleh kecepatan darah, luas penampang pembuluh darah, tekanan darah dan kerja otot yang terdapat pada jantung dan pembuluh darah.
Pada kapiler terdapat spingter prakapiler mengatur aliran darah ke kapiler :
a. Bila spingter prakapiler berelaksasi maka kapiler-kapiler yang bercabang dari pembuluh darah utama membuka dan darah mengalir ke kapiler.
b. Bila spingter prakapiler berkontraksi, kapiler akan tertutup dan aliran darah yang melalui kapiler tersebut akan berkurang.

Pada vena bila otot berkontraksi maka vena akan terperas dan kelepak yang terdapat pada jaringan akan bertindak sebagai katup satu arah yang menjaga agar darah mengalir hanya menuju ke jantung.
4. Sirkulasi Sistemik
Sirkulasi sistemik dapat dibagi menjadi lima :
a. Arteri
Dinding aorta dan arteri besar mengandung banyak jaringan elastis dan sebagian otot polos. Jaringan arteria ini terisi sekitar 15% dari volume total darah. Karena itu sistem arteria dianggap sebagai sirkuit yang rendah volumenya tetapi tinggi tekanannya. Karena sifat dan tekanan ini maka cabang-cabang arteri disebut sirkuit resistensi.

b. Arteriola
Dinding arteriola terdiri dari otot polos dengan sedikit serabut elastis yang sangat peka dan dapat berdilatasi atau berkontraksi untuk mengatur aliran darah ke jaringan kapiler. Arteriola menjadi tempat resistensi utama aliran darah dari seluruh percabangan arteria. Akibatnya tekanan pada kapiler akan turun mendadak dan aliran berubah dari berdenyut menjadi aliran tenang, sehingga memudahkan pertukaran nutrient pada tingkat kapiler. Pada persambungan antara arteriola dan kapiler terdapat sfingter prekapiler yang berada di bawah pengaturan fisiologis yang cukup rumit.

c. Kapiler
Dinding pembuluh kapiler sangat tipis, terdiri dari satu lapis sel endotel. Melalui membran yang tipis dan semipermeabel inilah nutrisi dan metabolit berdifusi dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasinya rendah.

d. Venula
Venula berfungsi sebagai saluran pengumpul dengan dinding otot yang relative lemah namun peka. Pada pertemuan antara kapiler dan venula terdapat sfingter postkapiler.

e. Vena
Vena adalah saluran yang berdinding relative tipis dan berfungsi menyalurkan darah dari jaringan kapiler melalui sistem vena, masuk ke atrium kanan. Pembuluh vena dapat menampung darah dalam jumlah banyak dengan tekanan relatif rendah. Karena sifat aliran vena yang bertekanan rendah-bervolume tinggi, maka sistem vena disebut sistem kapasitas.. kira-kira 65% dari volume darah terdapat dalam sistem vena.

ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR TIBIA

Standar

A. ASPEK TEORI
1.Pengertian

Fraktur adalah terputusnya atau hilangnya struktur tulang “ Ephiphyseal plate“ cartilago (tulang rawan )
Fraktur adalah patah atau gangguan kontinuitas tulang (Engram, Barbara. 1998)
Fraktur Adalah Terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa ( Mansjoer, Arief. 2000)
Fraktur Tibia Adalah patah atau gangguan kontinuitas pada tulang tibia

2.Etiologi

Kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh
Olahraga
Exercise yang kuat
Malnutrisi
Osteoporosis
Neoplasma

3.Manifestasi atau Gejala Klinis

Tanda – tanda tidak pasti
a.Rasa nyeri dan tegang, nyeri hebat bila dibuat gerak
b.Hilangnya fungsi akibat nyeri atau tak mampu melakukan gerakan
c.Defrmitas karena pembengkakan atau akibat perdarahan dan posisi fragmen berubah

Tanda – tanda pasti
a.Gerakan abnormalitas (False movement)
b.Krepitasi (Gesekan dari kedua ujung fragmen tulang yang patah
c.Deformitas akibat fraktur (umumnya deformitas berupa rotasi, angulasi dan pemendekan)

4.Patofisiologi
Kecelakaan
Olahraga / Exercise yang kuat
Malnutrisi

Fraktur

terbuka tertutup

Kerusakan integritas Resiko infeksi Kerusakan
Kulit mobilitas fisik Nyeri

Bedrest G3 tidur

keterbatasan Resiko Anoreksia
aktivitas Konstipasi
Resiko Nutrisi<
Intoleransi aktivitas

5.Penatalaksanaan

1.Pertolongan darurat
Pemasangan bidai atau splint, tujuan :
a.mencegah kerusakan lebih lanjut pada jaringan
b.mengurangi rasa nyeri
c.menekan kemungkinan terjadi emboli lemak dan shock
d.memudahkan transport dan mengambil foto
2.Pengobatan definitive
a.Reposisi secara tertutup
Manipulasi secara tertutup untuk mereposisi Traksi dengan melakukan tarikan pada ektremitas bagian distal
Penatalaksanaan :
Penderita tidur terlentang di atas meja periksa. Kedua lutut dalam posisi fleksi 90O, sedang kedua tungakai bawah menggantung di tepi meja. Tungkasi bawah yang patah ditarik ke arah bawah. Rotasi diperbaiki. Setelah tereposisi baru dipasang gips melingkar. Ada beberapa cara pemasangan gips, yaitu :
a.Cara long leg plaster :
Immobilisasi cara ini dilakukan dengan pemasangan gips mulai pangkal jari kaki sampai proksimal femur dengan sendi talocrural dalam posisi netral sedangan posisi lutut dalam fleksi 20o.
b.Cara sarmiento :
Pemasangan gips dimulai dari jari kaki sampai dia atas sendi talocrural dengan molding sekitar malleolus. Kemudian setelah kering segera dilanjutkan ke atas sampai 1 inci di bawah tuberositas tibia dengan molding pada pernukaan anterior tibia, gips dilanjutkan sampai ujung proksimal patella. Keuntungan cara sarmiento : kaki diinjakkan lebih cepat.
Setelah dilakukan reposisi tertutup ternyata hasilnya masih kurang baik. Masih terjadi angilasi, perpendekan lebih dari 2 cm tidak ada kontak antara kedua ujung fragmen tulang. Dapat dianjurkan untuk dilakukan open reduksi dengan operasi dan pemasangan internal fiksasi. Macam – macam internal fiksasi diantaranya:
Screw
Plate + screw
Tibial nail

b.Reposisi secara terbuka
Melakukan reposisi dengan jalan operasi, kemudian melakukan immobilisasi dengan menggunakan fiksasi interna berupa plat , pen atau kawat.
Penatalaksanaan :
a.Cara Treuta :
Luka setelah dilakukan debridement tetap dibiarkan terbuka tidak perlu dijahit. Setelah tulangnya direposisi gips dipasang langsung tanpa pelindung kulit kecuali pada derajat SIAS, calcaneus dan tendo Achilles.
Gips dibuka setelah berbau dan basah]
Cara ini sudah ditinggalkan orang. Dahulu banyak dikerjakan pada zaman perang.
b. Cara long leg plaster :
Cara seperti telah diuraikan di atas. Hanya untuk fraktur terbuka dibuat jendela setelah beberapa hari di atas luka. Dari lobang jendela ini luka dirawat sampai sembuh.
c.Cara dengan memekai pen di luar tulang
Cara ini sangat baik untuk fraktur terbuka cruris grade III. Dengan cara ini perawtan luka yang luas di cruris sangat mudah.
Macam-macam bentuk fixateur, diantaranya:
Judet fixateur, Roger Angerson, Hoffman, Screw + Methyl Methacrylate
3.Rehabilitatif
Tujuan utama :
Mempertahankan ruang gerak sendi
Mempertahankan ruang gerak otot
Mempercepat proses penyembuhan fraktur
Mempercepat pengembalian fungsi penderita
Latihan terdiri dari ;
Mempertahankan ruang gerak sendi
Latihan otot
Latihan berjalan

6.Komplikasi

Dini
a.Compartment syndrome.
b.Komplikasi ini terutama terjadi pada fraktur proksimal tibia tertutup
c.Komplikasi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi tungkai bawah yang dapat mengancam kelangsungan hidup tungkai bawah yang dapat mengancam kelangsungan hidup tungkai bawah. Yang paling sering terjadi yaitu anterior compartment syndrome.
d.Mekasnisme : dengan terjadi fraktur tibia terjadi perdarahan intra – compartment, hal ini akan menyebabkan tekanan intrakompartemen meninggi, menyebabkan aliran balik balik darah vena terganggu. Hal ini akan menyebabkan oedema. Dengan adanya oedema tekanan intrakompartemen makin meninggi sampai akhirnya sedemikian tinggi sehingga menyumbat arteri di intrakompartemen.
e.Gejala : rasa sakit pada tungkai bawah dan ditemukan paraesthesia, rasa sakit akan bertambah bila jari digerakan secara pasif. Kalau hal ini berlangsung cukup lama dapat terjadi paralyse pada otot-otot ekstensor hallusis longus, ekstensor digitorum longus dan tibial anterior.
f.Tekanan intrakompatemen dapat diukur langsung dengan cara whitesides.
g.Penanganan : dalam waktu kurang 12 jam harus dilakukan fasciotomi
Lanjut
a.Malunion : biasanya terjadi pada fraktur yang kominutiva sedang immobilisasinya longgar, sehingga terjadi angulasi dan rotasi. Untuk memperbaiki perlu dilakukan osteotomi.
b.Delayed union : terutama terjadi pada frakur terbuka yanbg diikuti dengan infeksi atau pada fraktur yang communitiva. Hal ini dapat diatasi dengan operasi tandur alih tulang spongiosa.
c.Non union : disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang tibia disertai dengan infeksi. Hal ini dapat diatasi dengan melakukaan bone grafting menurut cara papineau.
d.Kekakuan sendi ; hal ini disebabkan karena pamakaian gips yang terlalu lama. Pada persendian kaki dan jari – jari biasanya terjadi hambatan gerak, hal ini dapat diatasi dengan fisioterapi.

B. ASPEK KEPERAWATAN
I.PENGKAJIAN
1.Biodata ( Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pendidikan ( semakin rendah tingkat pengetahuan kx maka semakin berisiko), pekerjaan (kx dengan pekerjaan berat akan lebih berisiko), tgl MRS, Dx Medis, No Reg .
2.Keluhan Utama
“ Nyeri dan kerusakan mobilitas fisik “
3.Riwayat Penyakit sekarang
Terasa nyeri pada daerah kaki, nyeri ringan- berat, nyeri akan hebat bila digunakan gerak.
4.Riwayat penyakit dahulu
Riwayat injuri sebelumnya, pernah jatuh saat olahraga atau kecelakaan dan mengalami kesakitan pada daerah kaki (tibia).
5.Riwayat Keluarga
Bentuk, ukuran tulang merupakan factor keturunan sehingga bentuk tulang yang kecil berisiko lebih besar terjadi fraktur, serta apakah keluarga ada yang memiliki penyakit tulang (osteoporosis,dll)

6.Pola fungsi Kesehatan
6.1. Pola nutrisi dan metabolisme
nyeri yang ditimbulkan kemungkinan akan mengurangi nafsu makan atau menghilangkan nafsu makan kx sehingga beresiko nutrisi tubuh kurang .

6.2.Pola istirahat dan Tidur
Nyeri yang dirasakan akan menjadikan kx tidak nyaman untuk istirahat, pemasangan traksi akan membatasi pergerakan sehingga mengganggu posisi yang nyaman untuk tidur.
6.3.Pola eliminasi
Kx dengan fraktur diharuskan untuk bedrest total akibatnya dengan bedrest total peristaltic usus menurun sehingga resiko terjadi konstipasi
6.4. Pola Aktivitas
Dengan bedrest aktivitas klien terganggu dan tergantung bantuan orang lain atau keluarga.
a.Kahilangan fungsi pada bagian yang terkena keterbatasan fisik.
b.Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
Reduksi dan mobilisasi harus di perhatikan sesuai kebutuhan
Pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri
Status neurovaskuler (ex. Perdarahan, nyeri, perabaan gerakan) harus dipantau.
Latihan isomeric dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.

7.Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum ( Tekanan darah, nadi, Pernafasan, Suhu )
Inspeksi ; Pembengkakan dan deformitas pada daerah tibia
Palpasi : Tegang local, krepitasi dan nyeri tekan
Gerakan : False Movement

8.Pemeriksaan penunjang
Radiologi
Jenis Radiologis tanpa kontras :
Plain foto ( x-ray)
Computer Tomography (CT-scan)
Ultrasonography
Magnetic Resonace Imaging (MRI)
Jenis Radiologis dengan kontras :
Computed Tomoraphy (CT-scan)
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Sinography
Arthrography
Arteriography

II.DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.Perubahan kenyamanan (Nyeri akut) b.d diskontinuitas jaringan tulang (fraktur)
2.Gangguan mobilitas fisik b.d pemasangan traksi atau gips
3.Gangguan istirahat tidur b. d nyeri
4.Defisit perawatan diri b.d traksi atau gips pada ektremitas
5.resiko tinggi kerusakan jaringan integritas kulit b.d perubahan sirkulasi sekunder terhadap fraktur

III. INTERVENSI KEPERAWATAN
1.Dx “Perubahan kenyamanan (Nyeri akut) b.d diskontinuitas jaringan tulang (fraktur) “
Tujuan : Nyeri dapat berkurang dalam 1x 24 jam
K.H : Klien mengatakan nyeri berkurang, ekspresi wajah berkurang, tidak merintih

Intervensi :
1.1Bina Hubungan Saling Percaya (BHSP)
R/ Menjalin hubungan saling percaya antara perawat, klien dan keluarga klien
1.2Kaji TTV
R/ untuk mengetahui perkembangan klien dan mendeteksi infeksi dini
1.3Pertahankan tirah baring sampai nyeri berkurang
R/ Nyeri dan spasme otot dikontrol oleh immobilisasi
1.4Anjurkan pada klien untuk tidak menggerakan atau meminimalkan gerak pada bagian yang sakit
R/ dengan meminimalkan gerak atau tidak menggerakan bagian yang sakit dapat mengontrol nyeri
1.5Pertahankan traksi yang diprogramkan dan alat-alat penyokong (belat, alat fiksasi eksternal, atau gips)
R/ untuk mengimobilisasi frakturdan menurunkan nyeri
1.6Kolaborasi dengan tim medis (dokter)dalam pemberian obat antibiotik dana analgesik
R/ menjalankan fungsi independent perawat dan mempercepat penyembuhan
2.Dx. Ganguan Mobilitas fisik b.d Pemasangan traksi atau gips.
Tujuan :
a.Meminimalkan kemungkinan terhadap cidera
b.Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan keperawatan.
Kriteria Hasil :
a.Memperlihatkan tindakan untuk meningkat mobilitas
b.Melaporkan adanay peningkatan mobilitas
c.Mempertahankan posisi fungsional
d.Meningkat kekuatan / fungsi yang sakit
e.Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas.

Intervensi :
2
2.1Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
R/ nyeri dan spasme otot dikontrol oleh mobilisasi
2.2Tinggikan ekstrimitas yang sakit
R/ untuk member kenyamanan
2.3Instruksikan klien/bantu dalam latihan rentang gerak pada ekstremitas yang sakit dan tak sakit.
R/ Mempertahankan fungsi ekstremitas
2.4Beri penyangga pada ekstremitas yang sakit di bawah dan siatas fraktur ketika bergerak.
R/ untuk mengimobilisasi fraktur dan mengurangi nyeri.
2.5Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
R/ mengurangi resiko cidera
2.6Kolaborasi fisioterapi
R/ Menjalakan fungsi independent perawat dan mempercepat penyembuhan

3.Dx. Resiko tinggi kerusakan intregitas jaringan kulit b.d perubahan sirkulasi sekunder terhadap fraktur.
Tujuan :
a.Kerusakan intregitas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil:
a.Tidak ada laserasi
b.Intregitas kulit baik

Intervensi :
3
3.1Kaji ulang intregitas luka dan observasi terhadap tanda infeksi
R/ untuk memonitori suhu tubuh dan mendektesi infeksi dini.
3.2Monitor suhu tubuh
R/ untuk mengetahui perkembangan klien dan mendeteksi infeksi dini
3.3Pertahankan kesejajaran tubuh
R/ meminimalkan gerak / mengurangi gerakan dapat mengontrol nyeri
3.4Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
R/ untuk menjaga intregitas kulit
3.5Kolaborasi pemberian antibiotic
R/ menjalankan fungsi independent perawat dan mempercepat penyembuhan.

Daftar Pustaka

Engram, Barbara. (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah Volume 2. Jakarta. EGC.
Mansjoer, Arief. (2000), Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta. Media Aesculapius.
Tueker, Susuan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien Edisi V Vol 3. Jakarta: EGC.
Dongoes Marilym, E. (1993). Rencana Asuhan Kep[erawatan Edisi 3. Jakarta: EGC.
Smeltzer suszanne, C. (1997). Buku Ajar Medikal Bedah Edisi 8 Vol 3. Jakarta: EGC.
Price Sylvia, A. (1994). Patofisiologi Konsep Klinis – Proses Penyakit.Jilid 2 Edisi 4. Jakarta : EGC.

 

 

PENERAPAN HIPNOTERAPI DI KLINIK ATAU RUMAH SAKIT DAN EFEKTIFITASNYA

Standar

Hipnoterapi klinik merupakan terapi yang sah dan efektif yang digunakan dalam praktek klinis untuk membantu klien dalam mencapai kesembuhan atau meringankan rasa sakit yang mereka derita.  Hipnoterapi klinis dapat membantu klien untuk mencapai keadaan relaksasi yang mendalam dan melalui proses ini diri klien dapat mengaktifkan kemampuan penyembuhan yang sudah menjadi bawaan dalam diri kita semua. Dengan hipnoterapi juga dapat membuat klien terlibat dalam penyembuhan diri mereka sendiri.

Penerapan hipnoterapi di rumah sakit, salah satunya dilakukan pada pasien yang akan mengalami bedah atau operasi. Banyak penelitian telah membuktikan efektivitas hypnosis atau hipnoterapy dalam pembedahan, diantaranya:

  1. Dapat mengurangi kecemasan
  2. Dapat mengurangi kebutuhan obat pengontrol rasa sakit
  3. Dapat mempercepat waktu pemulihan

Lima jenis hipotisme yang umum dan berkembang saat ini, yaitu:

  1. Hipotisme yang dianggap sebagai sarana hiburan public bila konteksnya adalah hipotisme panggung atau hiburan
  2. Hipotisme bisa dianggap sebagai sarana untuk menugesti diri sendiri dan masuk ke dalam bawah-sadar pribadi untuk tujuan terapeutik dan pengembangan diri bila konteksnya adalah hypnosis diri atau otohipnosis
  3. Hipnotisme bisa dianggap sebagai sarana merangkai kembali ingatan-ingatan korban kejahatan atau saksi mata dalam persidangan bila konteksnya adalah hipnotisme forensik
  4. Hipnotisme bisa dianggap sebagai sarana melakukan penelitian-penelitian bila  konteksnya adalah hipnotisme eksperimental
  5. Hipnotisme bisa dianggap sebagai sarana terapeutik bila konteksnya adalah hipnoterapi atau hipnotisme medis

 

 

Prinsip-prinsip komunikasi efektif

Standar

Sullivan & Decker (1992) menggambarkan tujuh prinsip yang dapat diadopsi oleh perawat perioperatif untuk berkomunikasi secara efektif:
1. Pengiriman informasi bukan merupakan komunikasi; komunikasi adalah interaksi saling berbagi dari partisipan dengan umpan balik dari penerima kepada pengirim.
2. Pengirim, bukan penerima, bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan ide-ide secara jelas.
3. Bahasa sederhana dan jelas yang berkenaan dengan pengalaman penerima (bukan pengirim) sebaiknya digunakan karena kelihatannya lebih mudah untuk dimengerti.
4. Umpan balik dianjurkan untuk memvalidasi keakuratan interpretasi dari pesan-pesan yang dikirim.
5. Kredibilitas pengirim mempengaruhi hasil yang diharapkan dari komunikasi; pengirim harus menunjukkan kredibilitas personal dan profesional melalui sikap yang dapat diperacya dan dapat diandalkan;dengan praktik yang kompeten; dan menerapkan keputusan, “Katakan apa yang kamu maksud dan artikan apa yang kamu katakan” (Sullivan & Decker, 1992)
6. Saluran komunikasi langsung mengurangi distorsi; semakin banyak individu yang menyaring pesan yang disampaikan, semakin besar kemungkinan terjadi kesalahan komunikasi;komunikasi dengean berhadapan langsung (face-to-face), bukan komunikasi secara tertulis atau telepon, mengurangi salah pengertian karena pengirim segera memberikan umpan balik dan dapat membaca ekspresi nonverbal penerima.
7. Pengenalan terhadap hal-hal lain adalah penting untuk komunikasi yang efektif;kontribusi yang didapatkan memperkaya pertukaran ide.
Gruendemann, Barbara J., fernsebner. 2005. Buku Ajar Keperawatan Perioperatif, Vol. 1 prinsip. Jakarta: EGC

Prinsip yang harus diterapkan oleh perawat dalam komunikasi:
1. Hindari komunikasi yangterlalu formal atau tidak tepat. Ciptakan suasana yanghangat dan kekeluargaan
2. Hindari interupsi
3. Hindari respon dengan kata hanya ya dan tidak (perawat kurang tertarik dengan topik yang dibicarakan)
4. Jangan memonopoli pembicaraan
5. Hindari hambatan personal (jika perawat menunjukkan rasa tidak denang pada klien, maka hasil yang di apat idak optimal)